Wisata Budaya
Museum Yadnya
Museum Yadnya
Jika
tertarik mendalami berbagai ritual kehidupan tradisional masyarakat Bali,
Museum Yadnya adalah salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi. Museum
ini menjadi sumber berwawasan yang tak ternilai mengenai seluk beluk ritual
yang dilakukan masyarakat Bali. Museum yang berdiri sejak tahun 1974 ini dahulu
bernama Museum Manusa Yadnya. Setelah dilakukan rehab total dan penambahan
koleksi, museum ini kemudian dinamakan Museum Yadnya.
Museum
Yadnya terletak di Jalan Ayodya No. 7, Desa Mengwi, Kabupaten Badung dan
berjarak kurang lebih 18 kilometer dari Denpasar. Posisi museum ini berada di
sisi sebelah barat kompleks Pura Taman Ayun. Kompleks museum dipisahkan oleh
sebuah parit selebar kurang lebih 50 – 70 meter dengan pura ibu (paibon) dari
Kerajaan Mengwi tersebut. Museum ini dibuka untuk umum setiap hari pukul 08.00
– 15.00 Wita, kecuali hari Jumat pukul 08.00 – 12.30 Wita dan tutup jika hari
libur resmi. Untuk berkunjung ke museum Manusa Yadnya tidak dikenakan karcis
masuk sedangkan jika berkunjung ke Museum Bhuta Yadnya dikenakan karcis masuk
sebesar Rp 5.000 – Rp 10.000 untuk wisatawan local dan Rp 25.000 untuk
wisatawan asing karena dikelola oleh pribadi.
Wisata
budaya Bali ini terdiri dari dua galeri museum yaitu Museum Panca Yadnya yang
posisinya di tengah museum
dan Museum Bhuta Yadnya yang posisinya berada di sisi depan (selatan). Untuk Museum Panca Yadnya
sendiri dikelola oleh Pemerintah sedangkan Museum Bhuta Yadnya dikelola pribadi
oleh I Ketut Nuada yang juga seorang pelukis di Taman Ayun.
Galeri di sisi depan baru dibuka pada 2012. Di galeri ini
disimpan koleksi ogoh – ogoh berukuran raksasa yang merupakan hasil koleksi
dari I Ketut Nuada sendiri. Menurut
pemaparan I Ketut Nuada, beliau tertarik mengumpulkan ogoh-ogoh karena merasa
kasihan. Ogoh-ogoh yang
dibuat mengeluarkan uang yang banyak dan
hanya di pertunjukan sehari saja saat perayaan
ngerupuk dan malamnya
dibakar. Bapak yang berumur
kurang lebih 50 tahun ini kemudian membeli ogoh-ogoh yang masih bagus dari
banjar-banjar di seluruh bali menggunakan uang sendiri, itu sebabnya Museum Bhuta Yadnya di kenakan
tiket masuk sedangkan Museum Manusa Yadnya tidak dikenakan tiket masuk.
Di
sisi depan galeri utama yang berada di tengah kompleks terdapat juga sebuah
panggung amphimeter.
Pada bagian tengah, disimpan aneka perangkat
yang digunakan dalam ritual-ritual keagamaan yang
disebut panca yadnya. Namun koleksi di galeri Museum Manusa Yadnya ini belum lengkap dikarenakan masih dalam
penataan. Manusa yadnya dilakukan untuk menyempurnakan
kebajikan dalam diri seseorang manusia. Yang termasuk dalam ritual ini ada
rangkaian tahapan yang dilalui manusia sepanjang hidupnya, mulai dari
kehamilan, kelahiran, pubertas, menjelang kedewasaan hingga kematian. Salah
satu upacara yang diadakan dalam proses kehidupan seseorang dalam masyarakat
Bali adalah upacara kelahiran (otonan/pawetonan), memasuki masa pubertas
diadakan upacara akil balig (ngerajasewala) serta upacara potong gigi
(mepandes) yang memiliki makna pembersihan diri dari hawa nafsu. Memasuki usia
dewasa, ritual penting yang harus dilalui adalah upacara pernikahan dan
perrjalanan hidup seseorang akan ditutup dengan upacara kematian dapat berupa
penguburan atau kremasi (ngaben).
Untuk hari-hari
biasa mayoritas pengunjung Museum Yadnya berasal
dari wisatawan asing
sedangkan masyarakat lokal ramai berkunjung pada hari raya seperti
Galungan dan Kuningan serta hari raya lain. Di
museum ini, para pengunjung dapat memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan
ritual – ritual tersebut beserta maksud yang terkandung di dalamnya. Berbagai
peralatan yang berkaitan dengan rangkaian ritual tersebut berurutan sesuai
dengan kehidupan manusia. Pada bagian belakang kompleks, sebelah utara terdapat
contoh rumah adat Bali. Rumah adat ini dibangun berdasarkan konsep asta kosala
kosali. Tentu
hal ini juga menjadi salah satu daya tarik pengunjung museum.
Generasi muda saat
ini dirasa kurang memperhatikan budaya daerahnya. Mereka cenderung lebih
menyukai objek wisata yang sebatas untuk kesenangan dan jarang memperhatikan
mengenai budaya daerah sekitar mereka. Kunjungan ke museum bukanlah suatu hal
yang membosankan, justru ini merupakan suatu hal yang
sangat bermanfaat untuk kita. Dengan berwisata
ke museum, selain untuk hiburan kita juga mendapat wawasan lebih luas mengenai
sejarah – sejarah di masa lalu yang pastinya wajib untuk kita ketahui sebagai
generasi penerus bangsa.
Jadi, tidak ada salahnya untuk sering
berwisata ke museum. Salah satunya Museum Yadnya ini yang memang sangat menarik untuk kalian
kunjungi. Museum yang satu – satunya menyimpan sejarah mengenai kehidupan
tradisional Bali.
sekedar info>tulisan ini hasil kolaborasi antara aku n' kka sundari hhee :D
No comments:
Post a Comment